Senin, 24 Maret 2014
beta 2 agonis
Detik ini, serasa dunia hancur. Bukan tentang cinta, karena ini memang bukan tentang sang pangeran berkuda putih, tp untuk setangkai mawar yg durinya melukai pengagumnya.
Bukan untuk takjub seperti bayangbayang yang disuguhkan oleh keindahan sang mawar, tp menilik dengan pasti kalo memang terputus sudah harapan itu.
Ternyata ini yang disebut patah hati. Sesak ya?
Aku butuh beta 2 agonis :"
Minggu, 02 Maret 2014
Keep moving on
Akhir akhir ini aku suka ngeliat gallery di computer atau di
hp. Suka senyum senyum sendiri ngeliat kenangan baru dan kenangan lama yang
terekam lewat sebuah foto. kadang bukan senyum aja, seringnya sih tiba tiba pipi sudah basah.
Akhirnya aku berpikir, memacu otak, ya agak tepatnya adlah
muhasabah. Aku mulai menerka nerka rencana Allah yang begitu manis, mungkin
terlalu telambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali, Pernah inget
foto ini?
tapi sekarang akhirnya kita berwarna juga
:)))) Ini cuma salah
satu bukti aja gimana kita dulu pengen banget kuliah di salemba, atau di Bandung. Namun ternyata Allah menakdirkan lain. Kenapa coba Allah gak
nyatuin kita di satu tempat yang sama? Atau paling nggk di tiap beberapa orang dari kita ngumpul di
satu tempat . tapi nyata nya enggak kan? kita berwarna di tempat yang berbeda
Allah menakdirkan kita malah untuk kuliah di aceh, padang, lampung, depok, bandung, purwakarta, jogja, malang. Kepisah, dan gak ada yang gabung. supaya dakwah kita tersebar, supaya kita bisa menjadi sosok kiki dan dhika di tempat baru. Kiki dan dhika, adalah salah satu role model favorit aku sampai sekarang. Kiki dan dhika adalah dua orang subhanallah yang pernah aku temuin. Prestasi dan softskill mereka jangan ditanya. Di SMA dulu super, di kuliah mereka super dupeeer. Siapa sih yang gak tau mereka?
Di tempat baru
kitalah sebagai kiki, dan kitalah sebagai dhika.
Mungkin lelah untuk menjadi tetap seperti mereka, kadang pesimisme muncul juga. “sudahlah, tidak perlu mewarnai terlalu dalam, gak ikut terwarnai pun sudah cukup”
Boleh saja berpikir begitu, tapi apakah kita sudah
memberikan manfaat dan contoh besar untuk tempat baru kita? Jika belum,
pikirkan lagi, bagaimana setidaknya hasil konkrit dan nyata bisa tertuai
sebelum menyerah dan tidak menghasilkan. Seperti yang dikatakan kang tanri
“masa emas kemahasiswaan ini tidaklah panjang, kau mungkin akan melaluinya
begitu saja, kau juga bisa mewarnainya dengan kisah kisah indah, kau dapat
menjadikannya catatan singkat yan penuh dnegan prestasi besar perjuangan, semuanya
tergantung pilihanmu, semuanya ditentukan oleh setiap langkahmu.”
Ah kawan, aku yakin kalian mungkin telah menemukan jawaban dari galau move on kalian sejak lama. Bantu aku kawan, agar aku bisa terbang melesat secepat dirimu, serupawan sikap dan sehebat peranmu.
Ya, Kawan seperti kalian adalah sahabat sejati, tak ada tandingannya di bumi. seperti kata zethy, Cinta orang orang sholeh lebih manis dibandingkan mereka yang menginfakkan harta duniawinya, karena cinta orang-orang sholeh menawarkan pada kita dunia dan akhirat yang luasnya tak mampu kita jangkau. Begitulah rasanya berada di sekeliling kalian, dalam lingkar dengan tali tak kasat mata bernama iman, terulah menjadi inspirasi bagi banyak orang, karena tak ada lagi yang bisa diusahakan selain kebaikan.
Selamat menghapus kegelapan dengan benderangmu. Selamat menjadi yang terdepan dalam menebar manfaat.Selamat datang di tempat baru, yuk keep moving on :)
Sabtu, 25 Januari 2014
-sick
Sudah sejak lama ingin ungkapkan kerindu-galauan-buat-pulang-kampung, liburan yg ditungu tunggu sejak lama sekarang begitu saja berakhir. Dan selama penantian liburan itu......... Aku merasakan everything will be a -sick, mungkin terdengar lebay hmm yaudah kalo gitu aku urutin berdasarkan tingkatannya ckck
1. Warung-sick
Hmm tiap ngeliat ada warung makanan, atau jajanan apapun yg tulisanny ada nama jabodetabek dan skitarnya bikin pupil mata membesar dan langsung mau nyobain makanan disana wkwk misal nasi goreng jakarta, soto betawi, dan semacamnya.
2. Song-sick
Kalo denger org malang nyanyiin lagu sunda tuh sebenernya rasanya aneh bgt wkwk kurg pas aja hha, tp kadang kalo lagi di warteg gitu misalnya kan si abangabangnya nyetel radio ehhh keluarnya kadang kadang lagu kondangan org sunda wkwk entah kenapa rasanya pas dengerr hati dan sanubari ini rasanya teh jiga aya di bumi abdi wwkwk pdahl dirumah jarang juga denger lagu sunda yg kondangan gapernh malah wokwok
3. Merk-sick
Tiap belanja ke indomaret ato alfamaret, especially beli makanan atau barang lainnya, terus ngeliat belakangnya dr tangerang, dr bogor, dr bekasi, pokonya dr jawa barat tuuuuhh..... Serasa mata langsung berkaca kaca, dan lbh serasa kyk wah itu tempat gueee *ngomong sambil berasa melting krn bangga ( lebayyyy paraaah )
4. Plat-sick
Tiap ngeliat mobil berplat B atau F sumpaaaaah serasa wahhhhh kaya tibatiba muncul perasaan ketemu kelurga, ketemu temeen,rasany lbh kyk wah gue gak sendiri disini disinii *ngomong smbil terharu (haha sumpah lebay)
5. Homesick
Semua tau klo homesick itu kangen sm rumah, sebenernya makin tinggi semesternya pulang nggk pulang udah agak biasa aja sih, tp buat ketemu orang tua, keluarga, dan sahabat itu sih yang paling bikin semakin kangen rumah.
Yang anak rantau, pernah ngerasain ini gak sih? Haha say yes or no, and no maybe!
Yak sudah kuduga kelebayan ini menutup mata hati jadinya yang keliatan cuma kamu, rindu.
*dutulis ketika kelebayan tingkat dewa memuncak di liburan semester 2 dan hari ini itu terjadi lagi
1. Warung-sick
Hmm tiap ngeliat ada warung makanan, atau jajanan apapun yg tulisanny ada nama jabodetabek dan skitarnya bikin pupil mata membesar dan langsung mau nyobain makanan disana wkwk misal nasi goreng jakarta, soto betawi, dan semacamnya.
2. Song-sick
Kalo denger org malang nyanyiin lagu sunda tuh sebenernya rasanya aneh bgt wkwk kurg pas aja hha, tp kadang kalo lagi di warteg gitu misalnya kan si abangabangnya nyetel radio ehhh keluarnya kadang kadang lagu kondangan org sunda wkwk entah kenapa rasanya pas dengerr hati dan sanubari ini rasanya teh jiga aya di bumi abdi wwkwk pdahl dirumah jarang juga denger lagu sunda yg kondangan gapernh malah wokwok
3. Merk-sick
Tiap belanja ke indomaret ato alfamaret, especially beli makanan atau barang lainnya, terus ngeliat belakangnya dr tangerang, dr bogor, dr bekasi, pokonya dr jawa barat tuuuuhh..... Serasa mata langsung berkaca kaca, dan lbh serasa kyk wah itu tempat gueee *ngomong sambil berasa melting krn bangga ( lebayyyy paraaah )
4. Plat-sick
Tiap ngeliat mobil berplat B atau F sumpaaaaah serasa wahhhhh kaya tibatiba muncul perasaan ketemu kelurga, ketemu temeen,rasany lbh kyk wah gue gak sendiri disini disinii *ngomong smbil terharu (haha sumpah lebay)
5. Homesick
Semua tau klo homesick itu kangen sm rumah, sebenernya makin tinggi semesternya pulang nggk pulang udah agak biasa aja sih, tp buat ketemu orang tua, keluarga, dan sahabat itu sih yang paling bikin semakin kangen rumah.
Yang anak rantau, pernah ngerasain ini gak sih? Haha say yes or no, and no maybe!
Yak sudah kuduga kelebayan ini menutup mata hati jadinya yang keliatan cuma kamu, rindu.
*dutulis ketika kelebayan tingkat dewa memuncak di liburan semester 2 dan hari ini itu terjadi lagi
Selasa, 03 September 2013
Move on ?
Sedih banget sih aku masih susah sebenernya move on dari SMA,
sedih banget. Aku ngerasa belum siap aja
ditaro di lingkunagn yang berbeda. Cupu banget sih aku gabisa ngadepin tantangan
baru, jatohnya malah curhat kesana sini tentang kondisi ruhiyah yang gak
menentu sekalinya dapat solusi mungkin hanya sekedar lewat aja. Belum ada yang
menyentuh. Sedih sih kenapa aku bisa kayak gini. Terlalu tinggi standar ibadah
di sma, terlalu kondusif lingkungannya, terlalu nyaman buat liqonya, terlalu
mudah nya menggapai ilmu, terlalu semua terlalu.di rumah lingkungannya
mendukung, semua semua semua dahulu rasanya ingin berlomba lomba untuk
kebaikan, tapi sekarang? Mungkin ini lebay? Tapi begitulah yang kurasa
Sekarang di saat di kampus beda 180 derajat, mau apa? Bisa apa?
Apa mungkin aku yang emang gak mau berubah atau terlalu takut perubahan? Sedih banget
dikala semua kering dan kering menyeruak keluar, bergembar gembor sana sini
salahkan yang lain, padahal sebenernya salah nya ada pada diri sendiri. Salah soalnya
kurang dekat dengan quran, salah karena gak bisa nempatin posisi diri di tempat
yang seharusnya.
Semua socmed aku bikin status anti mager biar tiap aku liat
aku gaboleh mengedepankan hal itu di depan orang kalo misalnya aku sendiri gak
ngelakuin. Cuma…
Sekali lagi aku menderaikan air mata, aku masih berpikir aku
masih belum bisa move on.
Bagaimana seharusnya?
Cinta itu tabu
Bahkan yang bukan tarbiyyah pun tau
Bahwa hatinya dan cintanya itu bukan untuk saat ini
Kalau belum halal untuk apa bermain dengan yang seperti itu
Lagi lagi aku merasa pilu
Aku bingung menyikapi
Ketika yang sudah tarbiyyah pun masih bermain main dengannya
Hanya aku bingung menyikapi dirimu yang seharusnya sudah tau
Cinta itu mungkin tabu, tapi dia akan indah disaat dan waktu
yang tepat
Bukankah begitu?
Minggu, 04 Agustus 2013
Orientasi by Kang Tanri
-from arrizasyifaa.com-
Betul, indah sekali cinta dalam definisi ‘energi untuk terus memberi’.
Maka ia produktif.
Konstruktif, tidak destruktif.
Introspektif, alih-alih lebih banyak menuntut.
Konstruktif, tidak destruktif.
Introspektif, alih-alih lebih banyak menuntut.
Lebih siap tatkala menyadari bahwa agamanya tak sebaik yang dikira, fisiknya tak sesempurna gambaran awalnya, lain-lainnya pun tak seperti yang disangka.
Indah saat ia dibangun atas proses saling mengenal & memahami tanpa henti, saling mendukung dalam kebaikan & taqwa, juga saling melengkapi dalam berkebaikan.
Ditambah dua keyakinan awal yang lama telah kita pelajari:
1. Hanya mengharap balasan dari Allah,
2. Pasti ada tantangan, ujian & cobaan dalam kadar tanpa batas yang harus dihadapi.
1. Hanya mengharap balasan dari Allah,
2. Pasti ada tantangan, ujian & cobaan dalam kadar tanpa batas yang harus dihadapi.
Sempurnalah orientasinya.
Sempurnalah kerjanya.
Sempurnalah hasilnya.
Sederhana, tapi berharap jadi sempurna.
InsyaaAllah..
Sempurnalah kerjanya.
Sempurnalah hasilnya.
Sederhana, tapi berharap jadi sempurna.
InsyaaAllah..
Tulang Jaket
Sejak SMP, SMA, hingga bahkan
sekarang kuliah, buat aku pribadi pasti ada semacam baju ataupun jaket atau jas
atau apapun itu yang digunakan untuk menunjukkan ciri khas dari angkatan kita atau bisa jadi dari
organisasi yang kita ikuti.
Biasanya sih, di jaket itu ada nama khasnya
kan misalnya nama angkatannya SCHOLASTIC, terus di jaketnya ada tulisan
SCHOLASTIC gitu.
Sebenernya hal tersebut biasa
aja, simple aja. But for some reason, its so heavy bro! kenapa berat? Menunjukkan
karakter identitas secara tidak langsung
Nih bayangin aja, pas SMA kan aku
ikut ROHIS SMANSA, terus ROHIS ku itu terkenal ROHIS yang bagus se DEPOK.
Alhasil, ketika kita menggunakan Jaket berlabel tersebut, orang orang bakal tau
kan kalau kita anak ROHIS SMANSA, dan orang orang akan melihat tingkah laku kita.
At least, misalnya anak ROHIS SMANSA ngerokok atau kepergok lagi berduaan di
warteg sama akhwat,astagfirullah itu nggak banget gak sih, dan penilaian orang
ke ROHIS mungkin akan berubah karena kelakuan satu orang itu aja.
Atau misal aku pas naik motor pake
jaket yang ada tulisan Medical Faculty of Barwijaya, terus ketika cara aku
ngendarain motor tuh ugal ugalan, bisa jadi orang orang akan menganggap “loh
kok anak FK begitu” atau “loh, kok anak Brawijaya gitu” emmmm…………..bisa jadi.
Tapi bisa jadi juga tuh misalnya
ada kecelakaan, terus ketika seseorang mahasiswa FK berjaket label Fakultas
Kedokteran kebetulan lewat, bisa jadi akan dimintai pertolongan karena
seenggaknya mereka berpikir anak FK lebih mengerti dari mereka, misalnya ada
orang kecelakaan dengan trauma di kepala, atau di leher. Bisa jadi mereka belum
mengerti bagaimana menangani seseorang dengan trauma, misalnya kalau cara
ngangkat korbannya salah, bisa bisa lumpuh korbannya. Nah makanya pake jaket
tulisan FK itu berat haha……………………………………..krik krik. Tapi aku juga ngebayangin,
kalau misalnya ada orang gila ngamuk di rumah warga, terus kebetulan juga pas
ada mahasiswa psikologi lewat dengan jaket Psikologi, dan ada warga yang sejak
dari tadi bingung mengusir orang gila itu minta pertolongan ke mahasiswa itu
karena seenggaknya mereka berpikir anak psikologi lebih mengerti dari mereka
haha em bagaimana ya reaksinya mahasiswa itu? Penasaran…….(Haha tapi dalam
kondisi gawat darurat dan kecaman, sepaitpaitnya suasana dan sesempit sempitnya
waktu pasti kita bakal menolong orang yang dalam bahaya nggak sih? Tanpa musti
datangnya sebuah kedatangan dokter atau ahli psikologi atau apapun itu, kecuali
jika memang ada besar kesempatan agar ahlinya datang mungkin itu lain cerita)
Ah tapi sebenernya apapun nama yang terpampang
itu pastinya bisa bikin orang-orang tau kalau kita ada di kelompok yang namanya
terpampang di jaket itu dan BISA JADI nama itu juga jadi berat buat kita karena
secara nggak langsung kita jadi tulang punggung yang seakan menopang beban nama
tersebut di jaket kita, jadinya bukan tulang punggung, tapi tulang jaket :3
Sabtu, 03 Agustus 2013
Allah Peluk Aku................
Allah… peluk aku!
Allah, peluk aku erat
biarkan aku tetap di pelukanmu
Aku ingin merasa tenang, aku
ingin merasa bahagia,
Allah peluk aku
Hanya kau yang tak pernah
sedikitpun buat kukecewa
Hanya kau yang selalu ada pada
saat apapun dan bagaimana pun kondisiku
Hanya Kau yang tidak pernah
membuat aku kehilangan kehangatanmu hanya dengan mengingat namamu
Allah peluk aku
Dan biarkan aku tetap di
pelukanmu
Jumat, 24 Mei 2013
Nostalgila SMANSA :”””
habis buka tumblr fuckyeahsmansa jadi kangeeeeeeen sama SMANSA *uhuk
SMANSA!! sekolah dengan julukan yang hampir tiap wilayah negeri ini punya sekolah dengan julukan Smansa, tapi beda buat aku tiap feel ngomong SMANSA (SMA Negeri 1 Depok, Jawa Barat) itu berasa breb cess cetar cetar ulala membahana bagaikan aura listrik yang memancar (lebay)
sejauh apapun sekarang aku kuliah, tapi aku gak akan kehilangan feel tiap liat gerbang ini, as like always i do.
Tapi begitulah SMANSA, sekolah yang sudah kunantikan sejak SMP, gak pernah hilang aura yang terpancar darinya. Sekolah yang ketika pertama aku ikut MOPD selalu kupertanyakan dalam hati ”ini sekolah negeri apa madrasah? padahal kalo huruf S nya ilang kan jadi MAN 1 Depok wowkwok”
SMANSA itu semacam punya suatu llingkaran surga, yang bikin kita dinamis berputar didalamnya, ada satu sistem penggerak yang menciptakan keharmonisan ini, sesuatu yang nggak terlihat tapi terasa, seperti angin. i know you can feel it too, sob.
Salah satu yang dominan dalam sistem penggerak ini adalah MPOS dan ROHIS, mereka menciptakan suatu warna yang kemudian diurai bersama dengan ekskul-ekskul lainnya menjadi sebuah pelangi. Persaudaraannya, aturannya yang menjaga, keilmiahannya, kecerdikannya, kecermatannya, keingintahuannya. semua menyatu bagai melodi yang penuh dengan warna.
dan Hari ini 25 Mei, tepat satu hari setelah pengumuman UN. adek kelas @34Cakrawala lulus 100% dan SMANSA dapet nilai tertinggi se-Kota Depok. What a proud!! ya aku tahu, i have no doubt for it, dan aku juga tahu..
aku bangga sama SMANSA dan aku harap aku juga bisa terus membanggakan SMANSA hingga akhir hayatku,
dan semoga Allah meridhai tiap jalan yang aku dan semua anak SMANSA tempuh, sukses bersama buat semua alumni SMANSA taun berapapun, especially for you guys, @33Scholastic see you at the top :))
Rabu, 22 Mei 2013
Hak Pilih dan Memilih
HOAMMM selamat pagi semuanya!! semoga Allah selalu berikan rahmat dan berkahnya di pagi hari yang super duper cerah ini, yap hari ini bertepatan juga dengan Pilkada kota Malang, dan pastinya kuliah liburr HAHA alhamdulillah, tapi banyak yang mesti dikerjakan jugaa hari ini huft SEMANGAT!!
ngomong ngomong pilkada, kayaknya seru banget ya bisa mengunakan hak pilih secara sah bagi warga Indonesia yang notabene sudah cukup umur untuk bisa memilih, sudah sah secara hukum dengan kepemilikan KTP,dan pasti negara nganggep kita udah cukup dewasa untuk menentukan pilihan yang cermat siapa yang akan memimpin negara kita ini.
aku belum pernah menggunakan hak pilih sama sekali nih, udah menginjak 18 tahun setengah nih, dan udah satu tahun dari kepemilikan KTP. karena sekarang kuliah di malang jadinya gak bisa milih, udah gitu belum sempet buat e-KTP lagi pas kemaren masih di rumah.
Satu-satunya pengalaman milih itu pas ikut PEMIRA (Pemilihan Mahasiswa Raya), for the first time diperlakukan kayak selayaknya milih pemilu-pemilukada haha, pake tinta segala di jari pas selesai milih,wuih feelnya dapet bangeet (norak yak wkwk) but its true for sure, and i'm happy.
at least, sebenarnya seperti yang sahabat saya katakan, memilih dan tidak memilih adalah sebuah pilihan. Tiap pilihan itu harus dihormati, namun sekarang bagi yang punya kesempatan buat milih dengan mudah, jangan jangan siasia kan kesempatan ini, memang sih cukup sepele untuk golput, cukup sepele untuk mengabaikan pemilu/pemilukada dengan aktivitas yang lain, tapi bukan hal yang sepele untuk membiarkan negara ini dikendalikan oleh orang orang yang tidak berkompeten dan tidak berhati luhur, maka satu suara anda menentukan mau dibawa kemana negara ini dan siapakah orang yang tepat itu.
sukseskan pemilu dan pemilukada karena kita warga Indonesia :)
ngomong ngomong pilkada, kayaknya seru banget ya bisa mengunakan hak pilih secara sah bagi warga Indonesia yang notabene sudah cukup umur untuk bisa memilih, sudah sah secara hukum dengan kepemilikan KTP,dan pasti negara nganggep kita udah cukup dewasa untuk menentukan pilihan yang cermat siapa yang akan memimpin negara kita ini.
aku belum pernah menggunakan hak pilih sama sekali nih, udah menginjak 18 tahun setengah nih, dan udah satu tahun dari kepemilikan KTP. karena sekarang kuliah di malang jadinya gak bisa milih, udah gitu belum sempet buat e-KTP lagi pas kemaren masih di rumah.
Satu-satunya pengalaman milih itu pas ikut PEMIRA (Pemilihan Mahasiswa Raya), for the first time diperlakukan kayak selayaknya milih pemilu-pemilukada haha, pake tinta segala di jari pas selesai milih,wuih feelnya dapet bangeet (norak yak wkwk) but its true for sure, and i'm happy.
at least, sebenarnya seperti yang sahabat saya katakan, memilih dan tidak memilih adalah sebuah pilihan. Tiap pilihan itu harus dihormati, namun sekarang bagi yang punya kesempatan buat milih dengan mudah, jangan jangan siasia kan kesempatan ini, memang sih cukup sepele untuk golput, cukup sepele untuk mengabaikan pemilu/pemilukada dengan aktivitas yang lain, tapi bukan hal yang sepele untuk membiarkan negara ini dikendalikan oleh orang orang yang tidak berkompeten dan tidak berhati luhur, maka satu suara anda menentukan mau dibawa kemana negara ini dan siapakah orang yang tepat itu.
sukseskan pemilu dan pemilukada karena kita warga Indonesia :)
Kamis, 02 Mei 2013
SISTAAA
sejujurnya aku pengen bikin posting ini udah dari lama banget, tapi entah ternyata kesibukan kuliah lebih menggerogoti waktu jadinya aku belum bisa bikin posting super special deh buat kalian :"" tapi hari ini, di tanggal ulang tahun ayah HAHA, aku bakal bikin special yang tertunda :)
eh inget foto inii nggak??
jadi, aku dianugerahi Allah dua orang adik, mereka cuma seling 1 tahun saja lhoo.. jadinya kebanyakan orang bilang mereka kayak kembar, padahal mah enggak. memang sih mama suka beliin mereka baju yang kadang modelnya sama tapi warnanya beda, ya pantaslah kalo orang nyebut mereka kayak kembar tapi mereka jelaslah berbeda wkwk. waktu kecil, aku sayaaaaang bgt sama mereka, pas gede juga siih HAHA, anak remaja yang labil pasti suka berantem dan kita bernatem mulu loh (terus?) tapi kita juga sering kok ketawa tawa sampe ngakak bareng wkwk and these are my sisters...
dan inilah dua orang itu :)
Annisa Aprilia
seorang adik manis yang photogenic dan puitis, teramat tekun dan cerdas, cewek yang lahir 17 April 99 ini sifatnya agak menyebalkan dan agak egois
Tasya Amelia
seorang adik cantik yang jago main gitar dan menyenangi karate, teramat amat amat cerdas dan rajin, cewek yang lahir 26 April 2000 ini sifatnya manja dan suaranya toa
tapi................. tau nggak? aku sekarang kangen banget sama kalian dek :)) keduanya lahir di bulan yang sama, dan hari ulang tahunnya pun berdekatan haha, anyway..
HAPPY BIRTHDAY My lovely SISTA :))
semoga Allah berkahi umur kalian; bahagaia selalu dunia dan akhirat; disayang semua orang; berprestasi terus dan membanggakan agama, orang tua, keluarga, bangsa, dan almamater; menjadi orang yang terdepan dalam menebar manfaat, sehat selalu, dan sukses!! keep shining and amazing ya dear :)
i love both of you <3
iya bener kangen banget. meskipun banyak keonaran yang terjadi di rumah gara gara kita, itu bukan penghalang buat kita tetep kompak ya dek, aku juga teteeeeeeeeeeeeeeeep sayang kaliaaan, semoga kita sekeluarga masuk surga barengan yah ;)
oh iya, aku ad petuah nih buat kalian (berasa tua) haha jangan lupa jangan yang aneh aneh ya di sekolahan, belajar yang bener,berprestasi biar bisa banggain ortu, ikut organisasi dan ekskul biar kalian berkembang soft skillnya dan banyak link dan sahabatnya, jangan lupa shalat dan ngaji juga ya, ayo berlomba lomba dalam kebaikan!!! ( berasa mamah yang nasehatin yak buakakkakak)
eh inget foto inii nggak??
huhu inget kalian, inget rumaah, pengen
pulaaang, tapi disini banyak hal yang menanti juga, next time kalo aku pulang,
kita harus jalan bareeeng lagi yah ngalay bareng makan dan nonton bareng, oh ya
jangan lupa ngaji bareng dan jamaahan :"" jangan sibuk sibuk sendiri
loh hoho. salam buat mama dan ayah ya sist :) babay..
muah <3
pukul 18.40 dari sudut kamar kosan yang galau
Senin, 29 April 2013
kepoadenoma
Kepoadenoma bentuk pembengkakan jinak yang berasal dari kelenjar cinta pada seseorang/sekelompok orang berupa muculnya perhatian-perhatian dalam batas wajar, berbatas jelas, dan berfluktuasi ketika ditekankan (apasih ngarang bangettttt wkwk--)
ya, mengamati kalian dari jauh, mengamati setiap perubahan kalian dalam diam, super sekali kalian semua sekarang, layaknya stem cell yang tumbuh sangat cepat. Buat semua sahabat penebar manfaat, pemuka pergerakan, tancapkan asa kalian, luruskan niatnya, bersama-sama kita jadi seseorang yang sukses di masa mendatang. dengan jalan sendiri-sendiri dalam alur yang berbeda. sekali lagi aku mengamati kalian dari jauh, cukup bagiku mendengar serpihan tawa, sedih, bangga, kecewa, yang kau buat dalam tulisan-tulisan dimanapun aku bisa mencari tahu, walaupun hanya berbatas dunia maya, akupun bahagia. semoga persahabatan kita tak lekang oleh waktu, saling mendoakan kuncinya, walau awanku dan awanmu berbeda tapi langit kita tetap sama :)
dan jadilah aku kepoadenoma, bentuk perhatian lain yang keluar dari segenap hatiku :""
ya, mengamati kalian dari jauh, mengamati setiap perubahan kalian dalam diam, super sekali kalian semua sekarang, layaknya stem cell yang tumbuh sangat cepat. Buat semua sahabat penebar manfaat, pemuka pergerakan, tancapkan asa kalian, luruskan niatnya, bersama-sama kita jadi seseorang yang sukses di masa mendatang. dengan jalan sendiri-sendiri dalam alur yang berbeda. sekali lagi aku mengamati kalian dari jauh, cukup bagiku mendengar serpihan tawa, sedih, bangga, kecewa, yang kau buat dalam tulisan-tulisan dimanapun aku bisa mencari tahu, walaupun hanya berbatas dunia maya, akupun bahagia. semoga persahabatan kita tak lekang oleh waktu, saling mendoakan kuncinya, walau awanku dan awanmu berbeda tapi langit kita tetap sama :)
dan jadilah aku kepoadenoma, bentuk perhatian lain yang keluar dari segenap hatiku :""
Meja Telepon Ibu :3
sebuah cerpen yang bagus buat semua pejuang snmptn dan mandiri dimanapun kalian berada, lagilagi tentang berjuang dan perjuangan:) check it out!
Oleh: Siti Horiah
Di sudut ruang tamu kami yang luasnya tidak lebih dari 4 m2 itu terletak
sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada di rumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yang ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli di pasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“Ibu, Ibu, aku lapar!” jerit Rafi.
Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan di dapur, aku menyibukkan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.
Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi ke warung membeli setengah liter beras dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku
memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi dua bungkus mie instan untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli di pasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur di lantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
Hampir seluruh barang berharga di rumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan di ruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, aku pun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau
gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja
itu,” ungkapnya sambil pergi ke rumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
Aku lemas mendengarnya. Jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami.
Itulah kondisi yang selama ini aku alami. Tak ada yang bisa aku lakukan
banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk di kelas tiga.
Di tengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas. Aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar di atas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku di malam hari di saat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu di siang hari untuk belajar.
Benar kata ibuku, meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua
cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi di sekolah.
Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu. Meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya. Walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis di atas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.
Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya. Kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak, aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang
nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
“Ayah, Mama, aku gak mau kerja, aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM, aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik di kota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subuh aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itu pun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satu pun, itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeser pun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli
di pasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA.
Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.
Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” Buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.
Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang ke rumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas di pasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga
ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin kuletakan di atas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“Kamu mau kuliah yah, Neng?” tegurnya sambil tertawa kecil.
Aku kaget dibuatnya, ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada
dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku di pasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, kubuka buku
catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas
impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.
Keesokan harinya di sekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
“Selamat yah, Sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia.
Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, kuhampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka aku pun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang ke rumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.
Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai, baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun
senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal kupasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendapatkannya pesan ayah padaku yang selalu kuingat. Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku. Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.
Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Di tengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati, Bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri,” ucapnya
sinis.
sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada di rumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yang ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli di pasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“Ibu, Ibu, aku lapar!” jerit Rafi.
Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan di dapur, aku menyibukkan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.
Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi ke warung membeli setengah liter beras dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku
memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi dua bungkus mie instan untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli di pasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur di lantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
Hampir seluruh barang berharga di rumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan di ruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, aku pun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau
gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja
itu,” ungkapnya sambil pergi ke rumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
Aku lemas mendengarnya. Jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami.
Itulah kondisi yang selama ini aku alami. Tak ada yang bisa aku lakukan
banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk di kelas tiga.
Di tengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas. Aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar di atas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku di malam hari di saat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu di siang hari untuk belajar.
Benar kata ibuku, meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua
cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi di sekolah.
Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu. Meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya. Walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis di atas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.
Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya. Kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak, aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang
nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
“Ayah, Mama, aku gak mau kerja, aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM, aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik di kota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subuh aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itu pun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satu pun, itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeser pun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli
di pasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA.
Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.
Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” Buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.
Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang ke rumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas di pasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga
ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin kuletakan di atas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“Kamu mau kuliah yah, Neng?” tegurnya sambil tertawa kecil.
Aku kaget dibuatnya, ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada
dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku di pasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, kubuka buku
catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas
impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.
Keesokan harinya di sekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
“Selamat yah, Sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia.
Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, kuhampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka aku pun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang ke rumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.
Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai, baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun
senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal kupasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendapatkannya pesan ayah padaku yang selalu kuingat. Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku. Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.
Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Di tengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati, Bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri,” ucapnya
sinis.
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.
Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara
terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku.
Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi
manis ini kemarin. Terima kasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terima kasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.
Langganan:
Postingan (Atom)






.jpg)










